REMAJA, NARKOBA DAN BUDAYA

Oleh Emma Yuniarrahmah, SPsi

Staf Pengajar Unlam Banjarmasin

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, kondisi remaja yang elum sepenuhnya memiliki pertimbangan yang matang itu emsinya cenderung tinggi (tidak stabil).

Mereka adalah kelompok yang paling rawan berkaitan dengan penyalahgunaan obat terlarang (narkoba). Banyak factor yang berperan dalam penyalahgunaan narkoba, diantaranya factor keluarga, kepribadian, linkungan dan kesempatan.

Berdasarkan hasil penelitian Tim Unika Atma Jaya dan Perguruan Tingi Ilmu Kepolosian Jakarta tahun 1995, terdapat beberapa tipe keluarga yang berisiko tinggi anggota keluarganya (terutama remaja) terlibat penyalahgunaan narkoba.

Keluarga dimakasud adalah keluarga yang memiliki riwayat ketergantungan narkoba, keluaraga dengan aturan yang tidak konsisten, keluarga yang sering konflik, keluarga yang orang tuanya otoriter atau keluarga yang selalu menuntut kesempurnaan dan keluarga yang selalu diliputi kecemasan.

Pecandu narkoba biasanya memiliki konsep diri yang negatif dan harga diri yang renadah. Perkembangan emosinya terhambat, ditandai oleh ketidakmpuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif, agresif dan cenderung depresi.

Remaja yang menyalahgunakan narkoba umumnya tidak mandiri dan menganggap segala sesuatunya harus diperoleh dari lingkungan. Kelompok teman sebaya juga dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara teman-teman atau orang-orang seusia mempengaruhi seseorang agar berprilaku seperti kelompok itu.

Bila seorang remaja tidak berinteraksi dengan kelmpok teman yang lebih populer atau yang berprestasi, hal tersebu dapat menyebabkan frustasi sehinnga ia mencari kelompok lain yang dapat menerimanya.

Lingkungan juga tidak kalah penting juga turut mendorong terjadinya penyalahgunaan narkoba. Misalnya saja lingkungan sekolah yang kurang disiplin dan tidak tertib, sering tidak ada pelajaran pada waktu jam sekolah, serta sekolah yang tidak mempunyai fasilitas untuk menyalurkan kreatifitas siswa, merupakan cirri-ciri sekolah yang berisiko tingi terhadap adanya penyalahgunaan narkoba pada murid-muridnya.

Apalagi saat ini kesempatan untuk mendapatkan narkoba relative mudah, bahkan disekolah-sekolah termasuk SD. Lingkunganb masyarakat yang masih bersikap tak acuh seolah membiarkan penyalahgunaan narkoba. Factor lainnya adalah lemahnya penegakan hokum di Indonesia.

Penyalahgunaan obat juga berkaitan erat dengan sosio-budaya. Factor sosio-budaya ini dapat menjadi risiko dan factor proteksi terhadap penyalahgunaan narkoba. Artinya budaya dapat menjadi sumber atau hal pencetus terjadinya penyalahgunaan narkoba.

Pengaruh lingkungan sosial besar sekali pengaruhnya terhadap penyalahgunaan / ketergantungan obat. Kondisi sosial tertentu telah membuat keadaan sedemikian rupa sehingga kondusif bagi seseorang untuk mencoba-coba denan obat.

Rasa ingin tahu, pemberontakan terhadap figure orang tua atau otoritas, meniru-niru, tekanan dari teman sekelompok. Rasa jenuh dan bosan, keinginan untuk melarikan diri dari kesulitan dan lain sebagainya, kesemuanya itu membuat seseorang mencari keterangan tentang khasiat obat yang dapat memberikan kepuasan dankenikmatan.

Arus informasi dan transformasi yang sudah tidak dapat lagi dibendung, menyebabkan penyalahgunaan obat-obatan semakin sulit untuk dikendalikan. Demikian pula pola hidup yang cenderung konsumtif dan bebas ikut berpartisipasi.

Globalisasi menyebabkan penyalahgunaan obat-obatan dikalangan remaja, akibatanya peredaran obat-obatan yag disalahgunakan menjadi semakain sulit diberantas. Apalagi jarinagn yang dipakai pengedar sedemikian rapid an memakai system searah.artinya orang yang berada diujung tidak tahu dimana pangkal sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan jaringan pengedar obat-obatan tersebut sulit dilacak.

Akulturasi buday ayang terjadi di suatu daerah, misaknya daerah Bali, disatu sisi akan memperkaya khazanah budaya, karena dari akulturasi itu tidak jarangakan menimbukan perkambangan budaya baru. Tentu saja, hal ini memiliki nilai positif dan sepatutnya dapat dipertahankan.

Namun disi lain, tidak menutup kemungkinan adanya dampaknegatif yang ditimbulkan oleh adanya akulturasi dua atau lebih budaya daerah yang berbeda. Bali yang dikenal orang-orang mancanegara sebagai salah satu tempat wisatayang patut dikunjngi, membuat kondisi Bali dengan mudah dikunjungi oleh turis asing. Budaya turis asing yang cenderung bergaya hidup bebas, seperti minum-minuman keras, mengonsumsi obat-obatan terlarang, seks bebas, memungkinkan untuk ditiru oleh penduduk lokal. Ditambah lagi sikap “sering mengalah” yang ditunjukkan oleh masyarakat setempat, juga memberikan kontribusi terhadap penyalahgunaan narkoba.

Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya sikap tak acuh dari penduduk pendatang terhadap budaya lokal. Padahal, sikap pendatang terhadap budaya local setidaknya memberikan penghormatan kepada budaya lokal.

Namun tidak semua bentuk-bentuk budaya dapat menjadi factor resiko. Contoh-contoh budaya, khususnya budaya Indonesia yang mampu menjadi factor proteksi terhadap penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja antara lain tindakan suka menolong, mempunyai empati yang tinggi, masyarakat yang religius, budaya yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran serta dukungan sosial yang kuat dari masyarakat.

Indonesia yang menjadi salah satu Negara Islam terbesar di dunia memilikipotensi untuk meningkatkan factor proteksi tersebut, misalnya dengan cara meningkatkan pengetahuan agama dan menerapkan hokum Islam dikalangan masyarakatnya.

Peran budaya mampu mempengaruhi remaja dalam melakukan tindakan yang menyimpang, seperti penyalahgunaan narkoba yang dampaknya sangat merugikanbagi perkembangan dan masa depan mereka.

Satu Tanggapan

  1. kenakalan remaja lebih banyak di pengaruhi oleh lingkungan keluarga dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan