PILPRES 2009

pilpresCapek juga rasanya habis jalan-jalan memantau kegiatan pilpres tahun ini. 4 Kecamatan sudah habis aku lintas demi sebuah tugas suci untuk menskseskan pilpres. Puas juga, akhrnya aku bisa duduk tenang didepan komputer setelah semua tugasu selesai walaupun perhitungan suara baru mulai.

Pilpres kali ini tidak memakn waktu yang lama kaya pemilu legslatif kemaren yang sangat banyak menyita waktu. rata-rata seorang pemilih hanya membutuhkan satu atau 2 menit didalam bilik untuk menentukan pilihannya, sangat beda dengan pemilu legislatif kemaren yang rata-rata pemilih memakan waktu hampir seperempat jam bahkan lebih didalam bilik untuk menentukan sebuah pilihan.

Di daerah saya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan, Pilpres berjalan sangat lancar. Masyarakat sangat antusias, bahkan di desa-desa banyak banget yang mengantri dari sebelum jam delapan, padahal pemilihan baru mulai jam delapan. Alhamdulillah Kabupaten saya tenang dan aman pada waktu pemilihan berlangsung, masyarakat sangat tertib dalam menunggu antrian yang gak terlalu lama.

Siapa yah yang akan menjadi pimpinan kta nantinya?? Yah, kita tunggu ajah hasil perhitugannya malam nanti. Tapi daripengamatan ku di 4 kecamatan, suara buat SBY dan JK akan bersaing ketat. beda dengan Mega yang akan mengalami penyusutan suara, itu menurut pengamatan aku dilapangan tadi seh. Yah, mudah-mudahan saja orang kita pilih untuk menjadi pimpinan nantinya adalah seorang yang benar-benar berjiwa pemimpin, selalu mengayomi masyarakat dan tidak lupa janji-janjinya sewaktu kampanye.  Siapapun Presidennya nanti, minumnya tetap teh botol sosro….. Asyiiiik………………

KEPEMIMPINAN DI DALAM BIROKRASI PEMERINTAHAN

Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik didalam sebuah birokrasi pemerintahan perlu mengetahui apa itu birokrasi dan bagaimana birokrasi terbut dilaksanakan. Sebagai contoh, sebagai seorang kepala dinas yang merupakan pemimpin dalam sebuah kantor akan tetapi dia adalah seorang bawahan dari atasannya yaitu Sekda, begitu juga Sekda merupakan bawahan dari Bupati Atau Wakil Bupati, mereka harus mengetahui apa dan bagaimana dia harus menempatkan dirinya. Dia harus tahu kapan bertindak sebagai atasan dan kapan harus bertindak sebagai bawahan. Di dalam birokrasi pemerintahan sudah diatur bahwa setiap pemimpin dan bawahan mempunyai etika yang disebut dengan etika birokrasi. Apabila etika birokrasi tersebut dapat dilaksanakan baik oleh pimpinan maupun bawahan maka akan tercipta sebuah pemerintahan yang solid dan tangguh dalam melaksanakan seluruh tugas-tugas yang ada.

Pemimpin birokrasi pemerintahan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu pemimpin politik dan pemimpin profesional. Pejabat birokrasi yang terlatih secara profesional mempunyai kekuatan tersendiri sebagai suatu pejabat yang permanen. Pejabat seperti ini sepertinya mempunyai catatan karier yang panjang jika dibandingkan dengan pimpinannya pejabat politik yang bukan spesialis. Dengan memperhatikan hal-hal seperti ini, maka birokrasi itu mempunyai kekuatan yang seimbang dengan pejabat politik. Oleh karena itu kedudukannya tidak sekedar sebagai subordinasi dan mesin pelaksana melainkan sebanding atau co-equality with the executive. Dengan demikian birokrasi itu merupakan kekuatan yang a politic but highly politized. Birokrasi bukan merupakan partisan politik akan tetapi karena keahliannya mempunyai kekuatan untuk membuat kebijakan yang profesional.

Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu memperhatikan bagaimana bawahannya, baik itu dari segi perkerjaannya sampai dengan apa yang dibutuhkannya baik dalam hal pribadi apalagi dalam hal memperlancar urusan kedinasan. Mengapa disini saya memasukkan urusan pribadi? Hal ini karena urusan pribadi seorang bawahan seringkali menyebabkan urusan kedinasan (kantor) menjadi terbengkalai sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu juga untuk memperhatikan kebutuhan pribadi pegawainya tetapi dalam batas-batas yang tidak melanggar hak-haknya sebgai manusia.

Seorang pemimpin juga harus mengetahui bahwa dia bukanlah pimpinan yang mutlak memimpin disitu, tetapi masih ada pemimpin lain yang lebih tinggi dari dia dan harus dia taati. Diatas langit masih ada langit merupakan sebuah ungkapan yang sangat pantas untuk mengungkapkan hal tersebut. Jadi seorang pemimpin juga mempunyai keharusan untuk tunduk kepada atasannya dan mematuhi segala peraturan yang berlaku

Didalam birokrasi pemerintahan terdapat sebuah peraturan yang mengikat dan mengatur seluruh individu yang terdapat didalamnya baik itu pimpinan maupun staf, selain itu juga terdapat sebuah sistem perpangkatan yang akan dilalui untuk menjadi pimpinan dalam sebuah birokrasi pemerintahan (kecuali bagi pejabat politik). Seringkali terjadi dilapangan untuk mendapatkan sebuah kedudukan, seseorang menghalalkan segala macam cara. Sistem ABS (Asal Bapak Senang)pun banyak terjadi, yang mengakibatkan tugas-tugas pemerintahan tidak terlaksana dengan baik. Disini peranan pemimpin sangat diperlukan agar tidak salah dalam memberikan penilaian mana yang pantas dan tidak untuk diberikan reward, dan mana yang harus diberikan punishment. Kebijakan pimpinan sangat diperlukan dengan tidak memandang bulu, tapi dengan memamdang pantas apa tidak dan sanggup apa tidak dia melaksanakan suatau beban yang akan di tanggung seseorang.

Didalam birokrasi pemerintahan terdapat sebuah hirarki yang harus ditaati. Hirarki ini merupakan sebuah jenjang tanggung jawab dalam sebuah birokrasi yang tidak dapat dilangkahi atau ditinggalkan antara jenjang yang satu denga jenjang yang lainnya. Sebagai contoh : apabila disebuah desa terdapat satu atau lebih masalah, maka yang lebih berhak untuk menangani masalah tersebut adalah seorang camat yang secara langsung membawahi desa tersebut, baru kepada Bagian Tapem, kemudian Asisten Administrasi Pemerintahan, Sekretaris Daerah, Wakil Bupati dan terakhir adalah Bupati. Amat sangat tidak etis dan menyalahi prosedur yang berlaku apabila seorang kepala desa langsung melaporkan masahnya kepada seorang Bupati dan melangkahi jenjang hirarki yang ada.

KEPEMIMPINAN SEJATI

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau tranformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out ).

Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan pekerjaan, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.

Sering kali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dam maximizer.

Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor & praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).

Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis menjadi negara yang demokratis dan merdeka. Selama penderitaan 27 tahun penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam diri Beliau. Sehingga Beliau menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selam bertahun–tahun.

Sebuah jenis kepemimpinan yaitu Q Leader memiliki 4 makna terkait dengan kepemimpinan sejati, yaitu :

Q berarti kecerdasan atau intelligence. Seperti dalam IQ berarti kecerdasan intelektual, EQ berarti kecerdasan emosional, dan SQ berarti kecerdasan spiritual. Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ, EQ, SQ yang cukup tinggi.

Q leader berarti kepemimpinan yang memiliki kualitas (quality), baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.

Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi ( dibaca ‘chi’ dalam bahasa Mandarin yang berarti kehidupan).

Q keempat adalah qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh–sungguh mengenali dirinya (qolbunya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).

Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence-quality-qi-qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.